Natsir menyatakan bahwa antara dia dan kalangan nasionalis sekuler mempunyai perbedaan dalam tujuan dan cita-cita kemerdekaan
Judul Buku : POLEMIK NEGARA ISLAM SOEKARNO VS NATSIR
Penulis : Ahmad Suhelmi
Tebal Buku : 196 Halaman
Penerbit : Penerbit Universitas Indonesia
Cetakan : 2014
Menyoal wacana tentang Indonesia akan menjadi negara islam sempat naik ke permukaan publik belakangan ini karena gerakan-gerakan islam fundamentalis yang mulai berkembang di Indonesia. Terlebih lagi dengan banyaknya fenomena tokoh publik (khususnya di kalangan artis) yang memutuskan untuk 'berhijrah' meninggalkan gelamor dunia dan semakin mendekatkan diri pada Agamanya -Agama Islam- (Mungkin suatu saat akan saya sepatkan untuk membahas ini pada artikel tersendiri secara khusus). hal ini menjadi dorongan bagi sebagian orang untuk bergerak ke arah sana pula.
Hal ini menjadi menarik dibahas dalam ranah intelektual karena islam yang sejatinya merupakan agama mayoritas yang tentu memiliki power untuk mengubah sistem pemerintahan negara ini menjadi berasaskan islam. Buku yang saya akan bahas ini merupakan salah satu diantaranya, yang membahas tentang pergulatan ideologi tersebut sebagai suatu dialektik dalam usaha menemukan format dasar negara Indonesia pada masa-masa perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah.
Latar Belakang Persoalan
Yang menjadi judul pada buku ini 'Soekarno vs Natsir' sebenarnya hanyalah merupakan perwakilan dari dua ideologi yang berseteru, yakni antara golongan Nasionalis Sekuler yang diwakili oleh sosok Soekarno dan golongan Nasionalis Islami yang dalam hal ini diwakilkan oleh Natsir. diceritakan pada suatu hari Natsir sedang berjalan di sebuah jalan di Bandung terhenti langkahnya sejenak karena melihat kerumunan orang di sebuah lapangan, ia terkagum-kagum melihat seorang sosok Soekarno yang sangat visioner dalam menyampaikan orasinya didepan banyak orang tentang pandangannyatentang masa depan Indonesia yang merdeka, akan tetapi sering berjalannya waktu -1940- mulai terlihat perbedaan yang mendasar yang menjadi asas dalam pergerakan kemerdekaan masing-masing pihak.
Sosialisasi Politik Soekarno
Untuk mengenal sosok Soekarno, perlu kita pahami setidaknya ada tiga poros besar/dimensi pemikiran yang sangat berpengaruh terhadap pemikirannya, yaitu dimensi Tradisionalisme Jawa, Islam moderat, dan Marxisme. Sosok proklamator bangsa ini dalam sejarah hidupnya tertulis bahwa tidak pernah mengenyam pendidikan islam secara formal, pengetahuannya akan islam lebih didasari pada mendengar kajian-kajian agama serta hasil diskusi khususnya ketika ia masih ngekos di rumah Tjokroaminoto, yang merupakan sosok yang berada pada poros nasionalis islami. Soekarno didasarkan pada pola pendidikan bercorak barat sejak masih belia, itu pula mengakibatkan ia lebih memilih jalan negara republik sekuler, karena hal itu lah yang ia temukan dan telah berkembang di dunia barat. Ia melihat bahwa agama hanya mengurus permasalahan-permasalahan seorang hamba dengan tuhan yang ia percaya dan tidak mengurus urusan kenegaraan. Thesis soekarno ini ia tulis dalam suatu tulisan yang ia publish dengan berdasarkan pada beberapa data yang menurutnya itu menjadi dasar penolakannya terhadap sistem negara berbasis agama islam.
Cetakan : 2014
Menyoal wacana tentang Indonesia akan menjadi negara islam sempat naik ke permukaan publik belakangan ini karena gerakan-gerakan islam fundamentalis yang mulai berkembang di Indonesia. Terlebih lagi dengan banyaknya fenomena tokoh publik (khususnya di kalangan artis) yang memutuskan untuk 'berhijrah' meninggalkan gelamor dunia dan semakin mendekatkan diri pada Agamanya -Agama Islam- (Mungkin suatu saat akan saya sepatkan untuk membahas ini pada artikel tersendiri secara khusus). hal ini menjadi dorongan bagi sebagian orang untuk bergerak ke arah sana pula.
Hal ini menjadi menarik dibahas dalam ranah intelektual karena islam yang sejatinya merupakan agama mayoritas yang tentu memiliki power untuk mengubah sistem pemerintahan negara ini menjadi berasaskan islam. Buku yang saya akan bahas ini merupakan salah satu diantaranya, yang membahas tentang pergulatan ideologi tersebut sebagai suatu dialektik dalam usaha menemukan format dasar negara Indonesia pada masa-masa perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah.
Latar Belakang Persoalan
Yang menjadi judul pada buku ini 'Soekarno vs Natsir' sebenarnya hanyalah merupakan perwakilan dari dua ideologi yang berseteru, yakni antara golongan Nasionalis Sekuler yang diwakili oleh sosok Soekarno dan golongan Nasionalis Islami yang dalam hal ini diwakilkan oleh Natsir. diceritakan pada suatu hari Natsir sedang berjalan di sebuah jalan di Bandung terhenti langkahnya sejenak karena melihat kerumunan orang di sebuah lapangan, ia terkagum-kagum melihat seorang sosok Soekarno yang sangat visioner dalam menyampaikan orasinya didepan banyak orang tentang pandangannyatentang masa depan Indonesia yang merdeka, akan tetapi sering berjalannya waktu -1940- mulai terlihat perbedaan yang mendasar yang menjadi asas dalam pergerakan kemerdekaan masing-masing pihak.
Sosialisasi Politik Soekarno
Untuk mengenal sosok Soekarno, perlu kita pahami setidaknya ada tiga poros besar/dimensi pemikiran yang sangat berpengaruh terhadap pemikirannya, yaitu dimensi Tradisionalisme Jawa, Islam moderat, dan Marxisme. Sosok proklamator bangsa ini dalam sejarah hidupnya tertulis bahwa tidak pernah mengenyam pendidikan islam secara formal, pengetahuannya akan islam lebih didasari pada mendengar kajian-kajian agama serta hasil diskusi khususnya ketika ia masih ngekos di rumah Tjokroaminoto, yang merupakan sosok yang berada pada poros nasionalis islami. Soekarno didasarkan pada pola pendidikan bercorak barat sejak masih belia, itu pula mengakibatkan ia lebih memilih jalan negara republik sekuler, karena hal itu lah yang ia temukan dan telah berkembang di dunia barat. Ia melihat bahwa agama hanya mengurus permasalahan-permasalahan seorang hamba dengan tuhan yang ia percaya dan tidak mengurus urusan kenegaraan. Thesis soekarno ini ia tulis dalam suatu tulisan yang ia publish dengan berdasarkan pada beberapa data yang menurutnya itu menjadi dasar penolakannya terhadap sistem negara berbasis agama islam.
- Agama merupakan urusan pribadi. soekarno melihat pada kasus yang terjadi di Turki, yakni reformasi Mustafa Kemal At-Taturk. ia menulis sebuah tulisan khusus tentang hal itu, yang menurutnya itu adalah suatu bentuk modernisasi turki ke arah yang lebih maju. Mengapa? karena konsep negara yang turki jalankan tidak akan lagi berpedoman dengan suatu ajaran agama yang terkesan kuno dan sulit berkembang dengan zaman. Dengan adanya sekularisasi di Turki, hal ini membuka peluang bagi Turki untuk lebih bisa mengembangkan sistem pemerintahan yang ada. Terlebih lagi, Soekarno melihat apabila agama yang suci itu digunakan sebagai ideolohi negara, itu berpeluang menjadi sebuah alasan pembenaran bagi tindakan represif pemerintah/kesalahan-kesalahan pemerintah. Terutama pada negara totaliter.
- Soekarno pula melihat pada suatu tulisan seorang Syaikh Universitas Al-Azhar Kairo yang menyatakan bahwa tidak ada Ijtima Ulama yang mengharuskan secara tegas tentang berdirinya negara islam, serta tidak adanya konsep negara Islam. Hal ini didasarkan pada statment Syaikh tersebut yang menyatakan bahwa tugas diutusnya nabi ialah untuk memperbaiki moral serta mengajarkan apa yang tuhan kehendaki atas hambanya.
Sosialisasi Politik Natsir
Natsir hidup dan menghabiskan masa remaja awalnya di Sumatra Barat. Pada beberapa tahun sebelum Natsir lahir, di sana sedang berkembang suatu Ajaran pemurnian agama dari tanah Arab yang menimbulkan konflik dengan pemuka adat setempat karena adanya beberapa budaya yang telah mengakar disana tidak sesuai dengan ajaran islam yang dibawa dari tanah Arab, seperti sistem waris, dan budaya adu ayam. Natsir pun dari sisi pendidikan formalnya pernah mengenyam pendidikan bercorak islam yang sangat kental, walaupun kelak masuk ke lembaga pendidikan miliki belanda pula seperti Soekarno. Orientasi politik Natsir pun lebih bercorak keislaman, ini terbukti dengan aktifnya ia di organisasi sarekat islam dan Persis. Berbeda dengan soekarno yang memiliki orientasi pada ideologi nasionalis sekuler di PNI. Ia pun pernah membantah tulisan-tulisan soekarno yang menolak sistem negara islam dengan beberapa thesis utamanya sebagai berikut :
- Islam Sebagai ideologi. Natsir memahami islam sebagai suatu jalan , bukan suatu tujuan, yang menjadi perantara menuju suatu konsep kehidupan yang lebih baik. Berbanding terbalik dengan soekarno, ia melihat bahwa kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat bukanlah dua hal yang berbeda, tetapi merupakan suatu yang satu dan saling berkaitan. Serta islam, ia merupakan suatu ideologi yang komperhensif sebagaimana nasionalisme, marxisme, dan leninisme. walaupun ia terkesan menitikberatkan pada suatu dimensi tertentu pada masyarakat, namun ia sebenarnya memiliki cakupan yang luas dalam kehidupan bernegara.
- Natsir menolak cara pikir soekarno yang mengasosiasikan negara islam itu sebagaiman negara islamnya turki utsmani. Ia mengakui bahwa selama berlangsungnya kekhalifahan turki utsmani banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan serta ada beberapa sultan yang terkesan totaliter, namun ia mengatakan bahwa sesungguhnya itu bukanlah esensi yang diharapkan dari suatu pemerintahan islam yang sejati. Lalu Natsr juga mengkritik soekarno yang dianggapnya tidak komperhensif dalam memahami ajaran islam (Kaffah). Menanggapi kutipan soekarno atas tulisan seorang Syaikh Al Azhar, Natsir menuliskan apakah bila ditemukan Ijtima Ulama tentang konsep negara islam, apakah soekarno akan menerimanya? sementara soekarno pernah mengatakan bahwa Ijtima Ulama itu adalah hal yang terkesan kuno dan harus diperbaharui agar sesuai dengan zaman. Natsir menyakatan bahwa suadah ada beberapa ulam klasik maupun kontemporer pada zamannya yang membahas tentang konsep negara islam, seperti pada kitab Al Ahkam As Sulthaniyah karya imam Mawardi yang sangat masyhur diberbagai kalangan kelompok pemikiran islam.
persoalan ini menjadi dilematis, di satu sisi karena adanya kesamaan tujuan antara kelompok Nasioanlis Sekuler dan Nasionalis Islami yaitu untuk bersama-sama mengusir penjajah -dan mereka pun pernah untuk beberapa waktu bergandengan tangan untuk hal itu dan untuk beberapa hal lainnya- seperti keduanya bersepakat bahwa negara ini harus berdiri dalam suatu asas demokrasi, dimana setiap warga negara bisa menyuarakan aspirasinya pada suatu badan perwakilan negara. Akan tetapi mereka berbeda pandangan dalam perumusan konsep dasar negara yang kelak akan merdeka tersebut.
tentu dalam postingan ini saya tidak akan membahas keseluruhan dari isi buku tersebut, namun saya rasa deskripsi singkat diatas ini sudah mewakili dari apa yang ingin disampaikan oleh penulis buku berkaitan dengan judul yang tertulis di covernya.
Sekian postingan ini saya buat, mohon maaf bila ada kesalahan dalam mengutip isi buku tersebut secara tidak langsung apabila dinilai tidak tepat dengan apa yang dimaksudkan oleh penulis buku aslinya.
Jadi Menurut mu, apakah relevan jika Indonesia menjadi negara berdasarkan ajaran agama islam?
Beberapa foto buku yang saya miliki :
Apabila ada buku yang menarik silahkan tulis dikolom komentar ya ...



Comments
Post a Comment