#ReviewBuku "Muslimah Feminis" by Neng Dara Affiah

Pada hari ini, saya akan mereview sebuah buku tulisan dari dosen saya, bu Neng Dara, yang berjudul Muslimah Feminis. Dan nanti untuk teman-teman yang ingin baca full bukunya, akan disertakan link downloadnya di akhir artikel ini.

Dalam review ini, saya akan menuliskan nya dengan sistematika yang diawali dengan gambaran umum tentang buku ini dan disambung dengan rangkuman/gambaran tentang bab per bab yang ada di dalam buku ini.



Buku Secara Umum

Judul Buku : Muslimah Feminis
Penulis : Neng Dara Affiah
Tebal Buku : x + 122 halaman
Penerbit : Nalar Jakarta
Cetakan : April 2009


Buku ini kalau teman-teman baca sekilas akan terlihat seperti novel, karena penulis menuliskan buku ini dengan cara menceritakan pengalaman hidupnya dengan narasi-narasi yang cukup nyaman untuk dibaca dan dengan alur yang baik pula. Dalam menceritakan pengalaman nya tersebut, penulis menceritakan kisah hidupnya yang memiliki korelasi dengan perjuangan kesetaraan gender sekaligus memiliki ikatan langsung terhadap kehidupan seorang muslimah. Pendekatan tentang kajian gender sangat terlihat khususnya pada Bab III dimana penulis memaparkan pemikirannya sekaligus pengalaman intelektualnya dibidang kesetaraan gender.


----



penulis memulai bukunya dengan 1 bab yang relatif singkat yang menceritakan tentang kehidupan awalnya, ia lahir di daerah Labuan, Pandeglang, Banten pada April 1970, dengan latar belakang ayah yang seorang pendakwah bercorak NU dan ibu yang berasal dari keluarga yang bercorak Mathlaul Anwar. Selain itu, ia juga menceritakan tentang dinamika ayahnya yang bergabung dengan partai golkar, sebuah partai yang amat berkuasa saat orde baru, dimana disana memunculkan banyak sekali pro dan kontra dikalangan keluarganya maupun orang sekitarnya.

Akan tetapi, dari perspektif keluarga penulis justru dengan bergabungnya sang ayah ke partai golkar ini justru memperbesar ladang dakwah keluarganya, yang memang sang ayah meruapakan pimpinan pondok pesantren, dengan seringnya sang ayah ditugaskan untuk mengisi pengajian dibeberapa instansi pemerintahan dan kerap dipanggil beberapakali oleh pejabat-pejabat daerah dan negara untuk dimintai nasihatnya. sang ibu pun tak luput dari dampaknya, ia juga sering dimintai mengajar mengaji.


----



Penulis merupakan seorang yang telah dididik dengan kultur islam yang kental sedari kecil oleh keluarganya, khususnya oleh ibu dan neneknya. Selain itu intensitas dan minat baca penulispun sangat tinggi, yang mana buku-buku yang ia baca kelak mempengaruhi cara pandang penulis kedepannya. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan membaca novel-novel tersohor zaman itu seperti novel karya Hamka dan Sutan Ali Syahbana, majalah-majalah islam seperti majalah Panjimas, bahkan buku-buku perkuliahan pamannya pun turut dilahapnya.

setelah penulis menamatkan pendidikan dasarnya, ia meneruskan pendidikannya di Serang, Banten di sebuah sekolah formal dan dibarengi dengan masuk pesantren sebagai sarana pendidikan keagamaannya. Disana, ia sempat bergabung dengan suatu kelompok pengajian yang dikenal dengan "Usroh", yang bernuansa Ikhwanul Muslimin dan dalam ajaran-ajarannya menekankan pengikutnya untuk menjalankan ajaran islam dengan konprehensif (Menyeluruh) yang baginya merasa mengekang dirinya sebagai manusia.

setelah itu, ia memutuskan untuk pindah sekolah ke sebuah yayasan pendidikan pesantren di Tasik, Jawa Barat. Ajaran-ajaran islam yang diterapkan disana lebih bersifat kultural ketimbang sebuah dogam agama yang dirasa memaksa, contohnya santri baru disana seolah hanya formalitas dalam menggunakan kerudung, akan tetapi setelah berjalan proses pendidikan satu tahun disana para santri wanita baru diatur untuk mengenakan kerudung secara "paten". Pendidikan disana pun bersifat satu arah, guru yang menjelaskan kepada murid, tanpa ada diskusi atau kritik terhadap materi yang disampaikan pada sang guru. Akan tetapi, disamping itu semua ada yang membuat penulis merasa bahagia dengan kehidupan di pesantre, yaitu ajarah utuk hidup sederhana dan lantunan-lantunan syair yang sering dikumandangkan di pesantren yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan.


setelah sekian lama hidup di wilayah pesantren, penulis melanjutkan pendidikannya di IAIN Jakarta, disana ia didaftarkan oleh pamannya untuk masuk ke jurusan perbandingan agama yang sebenarnya bukanlah jurusan yang ia inginkan. selama masa perkuliahan ia memilih netral dari kegiatan politik kampus antara PMII, HMI, dan organisasi mahasiswa muslim lainnya dan ememstingkan untuk aktif dikegiatan yang bernuansa akademik saja. selain menimba ilmu di kampus, yang menjadi sumber ilmu lainnya bagi penulis adalah orum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) yang menjadi tempat diskusi dan bertukar pikiran, banyak hal yang didiskusikan disana seperti sosiologi, teologi, dan filsafat. dari banyaknya kegiatan diskusi tersebut menjadikan penulis seorang sarjana muslim yang terbuka akan pluralitas kehidupan dan memiliki banyak cara pandang dalam melihat suatu permasalahan.

Dari jurusannya, perbandingan agama, membuatnya mengerti akan realitas penganutnya yang berbeda. setelah itu juga ia aktif menyuarakan suaranya dibeberapa media dan membuatnya diundang kebanyak kampus di luar negeri sebagai pembicara, hal itu juga turut membuatnya semakin paham akan dinamika kehidupan komunitas minoritas muslim di negara-negara maju.

Penulis juga pernah memikirkan tentang sejarah pemikiran islam yang menururtnya telah terpecah belah karena beberapa hal seperti perbedaan dalam menafsirkan ayat suci, pemahaman tentang takdir, iman, dan lain sebagainya. hal ini lah yang kemudian menyebabkan munculnya kelompok-kelompok seperti syiah, khawarij, jabariyah, dll. Begitupun di Indonesia, dimana masyarakat terpolarisasi dengan organisasi-organisasi islam, di desa basis NU yang mempopulerkan islam yang berakulturasi dengan budaya sangatlah kuat, dan di kota yang merupakan basis Muhammadiyah yang menggelorakan islam yang bersih dari aspek budaya dan terkesan sederhana pun memiliki kekuatan. Akan tetapi penulis melihat bahwa dari perbedaan-perbedaan itu, umat islam secara gelobal masih memiliki persamaan, yaitu kesamaan yang fundamental dengan dua kalimat syahadat yang sekaligus menjadi syarat mutlak seseorang memeluk agama islam.

----

Penulis ssejak kecil telah dididik untuk menjadi "perempuan", dalam artian perempuan yang terikat oleh hukum adat kebiasan masyarakat dan agama yang memaksanya untuk tidak sering keluar rumah dan banyak menghabiskan waktu di rumah untuk melakukan berbagai kegiatan rumahan. berbeda dengan saudara laki-lakinya yang diizinkan untuk sering keluar rumah dan pulang malam.

Pemikiran tentang feminisme selain ia dapatkan selama ia berkuliah juga ia dapatkan didalam sosok neneknya, Hj. Masyitoh, yang ia anggap sebagai pelopor Muslimah Feminis dalam hidupnya. Hj. Masyitoh sehariannya bekerja sebagai pengajar di pesantren, berdagang pakaian, dan bertani, benar-benar merupakan sosok wanita yang bisa mendedikasihkan hidupnya untuk orang banyak dan dapat mandiri berdiri dengan kaki sendiri. Ia juga tak segan utuk bertemu dengan pemuka adat dan agama yang kebanyakan laki-laki, tanpa merendahkan diri didepannya, ia tetap tegap didepan mereka semua.

Pernah ada suatu kejadian di dalam keluarga penulis dimana sang ayah memkasa si penulis untuk menikah dnegan lelaki yang telah ia pilih, lelaki yang bukan penulis cintai. Disana terjadi puncak dari semuanya, penulis untuk pertamakalinya berteriak didepan orang tuanya agar tidak memaksakan pilihannya bahkan sampai ke hal yang bersifat prbadi seperti memilih pasangan hidup. Dari situlah, ayah penulis sadar dan mulai mengkampanyekan kesetaraan gender disetiap ia berceramah.

Penulis memiliki pikiran bahwa sebenarnya feminisme yang berkembang di barat memiliki kesamaan dengan islam, yakni sama-sama menjunjung tinggi kemerdekaan dan pembebasan. Walaupun penulis pun menolak sebagian poin ajaran dalam feminisme, dalam feminisme liberal ia sepakat dengan keinginannya untuk menolak semua kebijakan seksis diparlemen, namun ia menolak tentang konsep kompetisi seolah-olah laki-laki dan perempuan memiliki start yang sama. Adapun dengan feminisme radikal, ia sepakat dengan argumen bahwa patrirki telah mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan, namun ia menolak argumen bahwa untuk menghilangkan patrirki solusinya adalah dengan cara mengubah orientasi seksual.

Penulis juga memperdalam kajiannya tentang feminisme dari diskusi yang diselenggarakan oleh yayasan Kalyanamitra yang sering mengaakan diskusi tentang gender. Selain itu penulis juga menuliskan pemikirannya tentang kesetaraan gender dalam beberapa tulisan yang dimuat di koran-koran NU. Banyak sebenarnya rintangan dalam menyebarluaskan ide tentang kesetaraan gender, biasanya tentangan didapatkan dari tokoh-tokoh agama khususnya yang fundamentalis, masyarakat, dan rezim orde baru saat itu.

Sebenarnya sudah banyak organisasi islam perempuan pada masa itu, namun menurut penulis masih terlalu diintervensi oleh organisasi "laki-laki" yang menaunginya. Seperti contoh saat penulis aktif menjadi anggota kewanitaan Fatayat, kebijakan-kebijakan yang diambil sering mendapat pengaruh dari organisasi NU selaku organisasi yang menaunginya. Organisasi permpuan saat itu pun tidak suka dengan istilah feminisme, karena dianggap berasal dari barat dan tidak ramah terhadap agama. Namun kini konsepsi feminisme ini telah masuk ke dalam organisasi fatayat dan NU secara umum dan membuat NU menjadi organisasi yang progresif dan mencerminkan islam yang konservatif.

----

Masa muda penulis adalah masa dimana sebuah rezim berdiri dengan kokohnya. Sebuah rezim yang menggunakan ideologi negara sebagai legitimasi atas dirinya, seperti matapelajaran PMP dan P4 yang ditanamkan dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Para birokrat pun tunduk dan patuh kepada rezim itu karena takut karir bahkan nasih diri dan keluarganya menjadi taruhan, Para istri kaum birokrat dan pegawai negeri menghimpun diri dalam suatu wadah yang bernama Dharma Wanita. Para istri yang suaminya berkuasa
dalam departemen tertentu ikut berkuasa pula terhadap para istri pejabat di bawahnya, mulai dari para gubernur, bupati hingga camat. Mereka mendompleng kekuasaan para suami untuk menguasai para istri di bawahnya. Terkadang mereka terlihat menggelikan, karena di antara mereka ada yang tidak memiliki kemampuan memimpin, tetapi dipaksakan untuk memimpin. Tak heran, jika pimpinan Ibu Dharma Wanita tersebut memberikan pidato sambutan sering tidak selaras antara kalimat yang diucapkan dengan ekspresi wajahnya, bahkan mungkin tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, karena teks pidato dibuatkan oleh orang lain.

Sistem pemerintahan pada saat itu juga dianggap cukup sekuler, oleh karena itu masyarakat muslim sangat berharap banyak pada ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) sebagai media untuk membawa nilai-nilai ajaran islam ke konstitusi.

Bentuk-bentuk penolakan terhadap orde baru pada akhirnyapun bermunculan dari berbagai kalangan khususnya mahasiswa, penulis pun juga ikut andil di dalamnya. Hingga puncaknya tahun 1998 orde baru pun tumbang dan menjadi awal yang baik bagi gerakan-gerakan kesetaraan gender di Indonesia.

Pada masa reformasi kesetaraan gender telah menjadi salah satu agenda penyelenggaraan negara, dengan terbitnya Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dan muncul berbagai forum diskusi, majalah, dan media yang menyuarakan kesetaraan terhadap kaum perempuan.

----

Di akhir buku ini, penulis mengingatkan kembali tentang pentingnya untuk menjaga nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa serta Hak Azasi Manusia didepan nilai-nilai etnisitas dan fundamentalis agama.

----

Sekian review buku ini, mohon maaf atas segala kesalahan kata maupun esensi yang saya tuliskan pada artikel ini,
Di bawah sesuai janji saya di atas, saya seratakan link untuk mendownload buku tulisan dosen saya ini, semoga bermanfaat

LINK DOWNLOAD SAMPUL disini
LINK DOWNLOAD ISI BUKU disini


Kalau sekiranya ada buku atau novel yang menurut teman-teman baik untuk saya review di blog ini, mohon tuliskan judul dan penulisnya di kolom komentar.

Terimakasih

Comments